Oleh : Achmad Aris
Deskripsi
Meskipun pemilu masih lama namun para elit politik dan partai politik nampaknya sudah sibuk dengan manuver-manuver politiknya demi pengumpulan resources untuk pemilu 2009. Manuver politik jelang pemilu 2009 dapat di lihat dari berbagai perilaku individu dan kelompok. Di awali dengan munculnya konflik elit yaitu antara Mantan Wakil Ketua DPR Zaenal Ma’rif dengan Presiden SBY dimana konflik ini sempat mengancam kredibilitas SBY sebagai seorang Presiden. Upaya lain untuk menjatuhkan kredibilitas SBY adalah dengan mempermasalahkan ide pembentukan komisi nasional amandemen. Disisi yang lain masing-masing partai sibuk mengusung sosok figur capres yang punya daya jual hingga yang akan diusung dalam pilpres 2009 salah satunya adalah upaya PDIP untuk mengangkat kembali popularitas Megawati sebagai capres dari PDIP. Secara individu pun, masing-masing elit berlomba-lomba untuk menunjukkan sikap pro-rakyatnya baik itu dalam bentuk pernyataan setiap terjadi permasalahan rakyat atau melakukan aksi riil yaitu dengan memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Secara umum, dapat di gambarkan bahwa konstelasi politik nasional secara eksplisit menggambarkan adanya indikasi penciptaan political image dan political down oleh beberapa elit guna mempersiapkan amunisi dalam Pilpres 2009.
Di lain pihak di tengah konflik antar elit, ada sebagian pihak yang memunculkan wacana calon independen untuk pilkada yaitu Lalu Ranggalawe salah satu anggota DPRD Lombok Tengah dimana pengangkatan wacana ini diindikasi dilatarbelakangi oleh niatannya untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah di NTB. Selanjutnya wacana tersebut di coba untuk di tarik dalam cakupan yang lebih luas lagi yaitu calon independen untuk pilpres oleh DPD dan beberapa kelompok elit yang berkepentingan.
Proses seleksi anggota KPU pun tidak lepas dari praktek politisasi jelang 2009. Proses seleksi untuk memilih anggota KPU saat ini merupakan salah satu isu yang menarik untuk dimainkan. Hal tersebut dikarenakan KPU adalah lembaga independen yang mempunyai pengaruh penting terhadap aktivitas politik para elit pada saat pemilu terlebih KPU memegang penuh kewenangan penyelenggaraan pemilu. Maka dari itu, lazim apabila kemudian banyak kepentingan yang bermain dalam proses seleksi anggota komisi tersebut.
Ruang politik yang selanjutnya dijadikan sebagai ajang manuver politik jelang pemilu 2009 adalah pembahasan RUU politik. Begitu signifikannya pembahasan RUU politik menjelang pemilu 2009 menjadikan proses pembahasannya syarat akan nuansa politis. Tarik menarik antar kepentingan merupakan hal yang tidak bisa di hindari sehingga pansel RUU Politik DPR dituntut untuk bekerja secara profesional dan menjaga independensinya. Apalagi RUU paket politik politik tersebut akan menjadi acuan pelaksanaan pemilu 2009. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana kontroversi yang terjadi menyoal draf RUU politik sebagai contoh adalah proses Judicial Review terhadap UU tentang Pileg mengenai prinsip electoral threeshold yang diajukan oleh 13 parpol kepada MK. Mekanisme pembahasan yang representatif dan transparan tidak akan ada gunanya ketika dalam finalisasinya, intervensi kelompok kepentingan masih mendominasi terutama intervensi dari partai besar.
Pemilu 2009 masih dua tahun lagi namun partai politik sudah sibuk mempersiapkan strategi mengumpulkan sumber daya untuk memenangkan pemilu 2009. Segala daya dan upaya dikerahkan baik itu melalui parlemen dengan bermain dalam pembahasan RUU Politik, politisasi penyikapan kasus guna meraih dukungan publik seperti kasus lapindo, kasus kenaikan tarif tol ataupun di luar parlemen dengan cara menggalang dukungan massa dengan program-program kampanye terselubungnya, membangun konsolidasi internal partai dan membangun koalisi antar partai termasuk dengan mengusung figure-figur capres yang mempunyai daya jual tinggi.
Analisis
Manuver-manuver politik elit dan partai politik jelang pemilu 2009 ini menjadi suatu hal yang wajar dalam konteks demokrasi secara prosedural namun secara substantif hal tersebut hanya merupakan bentuk pembodohan terhadap publik dimana masyarakat disuguhi janji-janji manis oleh para elit dan partai politik menjelang pemilu. Tetapi setelah pemilu usai janji-janji tersebut tidak di realisasikan karena yang terjadi adalah para elit dan partai politik sibuk menghitung cost of politic yang telah mereka keluarkan semasa kampanye untuk didapatkan kembali sewaktu mereka berkuasa sedangkan masalah kepentingan rakyat, itu urusan belakangan karena yang penting bagi mereka adalah bagaimana caranya untuk memaksimalkan gain of politic.
Prediksi
Ketika para elit politik masih mengusung prinsip realisme politik maka sampai kapan pun orientasi politik mereka adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan kekuasaan bukan bagaimana caranya untuk mensejahterakan rakyat banyak. Alhasil, maneuver-manuver politik para elit dan partai politik akan terus kita jumpai setiap akan diselenggarakannya pesta demokrasi. Namun manuver politik jelang pemilu 2009 untuk saat ini masih akan berkutat pada pembahasan RUU politik dan permainan political image/ political down.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar